Dear My Sharing Time Friend
Entah sejak kapan keyakinan ini hadir
Selesai tidak selesai, hidup tetap berjalan.
Aku tau kamu pun memikirkan hal serupa.
Bagaimana aku tau? Karena setelah 5 tahun, kamu akhirnya meminta bertemu. Mungkin masih ada sedikit rasa sesal dan permintaan maaf. Aku sudah menjawabnya. Maafkan aku juga ya, tapi aku tidak mau lagi membaca buku yang sama dua kali. Maka jangan pernah pertanyakan itu lagi. Aku tidak mau dengan sengaja menjadi tokoh antagonis di cerita hidup orang lain.
Manusia itu seringkali berandai-andai tentang pilihan hidup yang tidak ia pilih. Maka ketika ia menghadapi masalah, ia menjadikan hal yang luput dari pilihannya sebagai pelarian. Kehilanganmu sama saja kehilangan teman cerita. Mungkin itu juga yang kamu rasakan. Beberapa kali, setiap aku sedih, aku teringat kamu. Rasanya mau cerita, tapi dihadapkan dengan realita. Semua sudah tak sama lagi.
Betapa bertahun-tahun aku berupaya untuk berlalu. Menerima bahwa aku bukanlah pilihanmu saat itu. Dan aku menyadari, itu adalah pilihan rasional bagimu pada saat itu. Hingga akhirnya akupun sadar, aku yang sekarang juga hasil dari keputusan hidup yang telah kupilih. Kubiarkan hatiku turut pergi bersama bayanganmu, lalu kubiarkan hati yang baru tumbuh lagi.
Kalaupun ada yang ingin kuucapkan padamu, aku hanya ingin bilang "Terima kasih sudah pernah hadir dan menjadi teman bercerita di saat titik terendah dalam hidupku. Terima kasih juga telah berbagi cerita denganku. Hal yang mungkin belum tentu kamu ceritakan padanya".
Percayalah, aku tidak membencimu. Hal yang tak akan aku pungkiri adalah bahwa kamu pernah jadi bagian dari kisah hidupku. Kamu tetap satu diantara seribu. Bedanya, kita tidak lagi berada di situasi dan waktu yang sama. Kini, aku dengan jalanku, dan kau dengan jalanmu. Kamu adalah ketidakmungkinan yang paling mungkin, sekaligus kemungkinan yang paling tidak mungkin.
Jakarta,
17052026
01.43
Komentar
Posting Komentar